Pages

Subscribe:

Rabu, 12 Juni 2013

SIMPANLAH DI INGATANMU

Kenalkah kau 
suara air menitis pada keras batu
mengukir wajah tekun 
pada alur dan kerikil tajam
sepi di gua menafsir lembut zikir syahdunya
melarik runcing tanah dan batu 
melentur silau panas mentari 
gua hidup menghampar dalam gelapmu
ketabahan dan ketekunan jitu
manusia bergelar guru.


Masih ingatkan kau pada gelita malam
tatkala manusia nanar dalam pencarian
mencari jejak yang retak
meneka takdir mimpi
dengan lembut dia berdiri menabur bakti
memberimu cahaya dari sinar tuhannya
biarpun sedikit demi sedikit
titis demi titis luruh 
terbakar dan kehilangan diri,
kehilangannya tak pernah berganti.


Lupakah kau pada pengukir itu
tekun berdiri mengukir mimpi
melarik cinta hari dewasa
berapa banyak debu pahit
berjelaga di dalam hati
berkumpul di pangkal jantung, sekalipun
arca hidupnya retak seribu
mimpimu juga ditenung diukir
menjadi gambar abadi.


Dialah 
lembut suara air di tengah gua batu
guru yang faham erti kepayahan
menyulam perkerti dalam manis budi.


Dialah 
dian kerdil memberi suluh pencarian
pendidik yang menerima kepayahan
demi kesenangan anak didik di hari muka.


Dialah
penekun tabah mengukir waktu
pengajar bermandi keringat
dalam debu dan batu-batu.


Dialah 
Manusia kecil yang sering memberi
apa yang kita tidak tahu
menafsir rahsia ilmu
yang tertulis dengan bahasa kalbu.


Simpanlah di ingatanmu
diksi kata pujangga;
Guru laksana ombak
tak jemu-jemu mendambai pantai


Guru seumpama dian
membakar diri menerangi cahaya


Guru ibarat pengukir
menitip jejak perjalanan hari muka


Guru bagaikan suara air di gua 
tekun titis lembut membelah batu.

0 komentar:

Posting Komentar